Tidak dipungkiri sampai saat ini pun pendidikan di
Indonesia dapat dikatakan masih jauh dari kata stabil, gonjang-ganjing seputar
konsep pembelajaran yang amburadul bahkan dengan semakin banyak munculnya
komersialisasi pendidikan, terasa masih menjadi cerita yang selalu terbarukan
di kalangan masyarakat secara umum, hingga menimbulkan kegalauan di kalangan
peserta didik pada khususnya.
Sebenarnya sampai saat ini, perkembangan pendidikan
di Indonesia tidaklah buruk-buruk sekali, contoh kecil saja pada keikutsertaan
dan kemenangan para pelajar Indonesia di perlombaan atau olimpiade baik di
tingkat nasional maupun internasional. Mungkin hanya karena kurangnya peran
masyarakat di dalam mendukung proses penyusunan materi pendidikan, tidak secara
langsung dapat mempengaruhi kualitas pendidikan. Karena pada hakekatnya, konsep
pendidikan itu seharusnya mampu memanusiakan manusia dan didasarkan atas
kebutuhan manusia.
Dan jika dilihat di Indonesia, konsep pendidikannya
cenderung hanya mengedepankan diskusi antar kelas orang-orang atas, bukan
didasarkan atas fakta dan realitas. Memang cukup mewakili, namun tidak
sepenuhnya mampu menjawab semua permasalahan yang terjadi. Dan jika ditelisik
kebanyakan dana pengembangan pendidikan yang seharusnya mampu dinikmati
masyarakat, kini lebih rentan disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Maka
tidak salah jika kemudian peserta didik kurang mampu mendapatkan fasilitas
pendidikan yang layak, yang pada akhirnya secara tidak langsung dapat
mengganggu kelangsungan proses pembelajaran.
Oleh karena itu, dan sehubungan dengan hal tersebut
maka kemudian disusunlah sebuah formula pendidikan yang disusun menganut pada
konsep demokrasi, “dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat”. Seharusnya sebuah konsep pendidikan itu didasarkan
pada kebutuhan yang berasal “dari
rakyat”, dalam artian pendidikan yang diselenggarakan diharapkan mampu
menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, baik menyangkut nilai-nilai agama,
moral, dan budaya bangsa. Karena seiring dengan semakin derasnya arus
globalisasi, tuntutan pendidikan secara langsung ikut andil dalam mendukung
proses pengembangan jaman. Maka disini pentingnya pemahaman tentang nilai-nilai
yang ada di masyarakat, merupakan salah satu jurus ampuh untuk menangkal segala
bentuk kolonialisme pendidikan.
“oleh
rakyat”, masyarakat merupakan pelaku utama dalam mendukung
kelangsungan sebuah proses pembelajaran pendidikan yang diselenggarakan. Keikutsertaan
masyarakat disini sangat diperlukan, peran dan tugas masyarakat sebagai
pelaksana, sekaligus pengawas merupakan factor yang menentukan kesuksesan
pelaksanaan pendidikan. Disamping itu peran kementerian sebagai lembaga
tertinggi Negara hendaknya lebih fleksibel, dalam artian dari segala argument
yang dilontarkan oleh masyarakat hendaknya dapat ditanggapi dengan baik dan
bukan dengan langsung memblokade akses pemenuhan pendidikan yang seharusnya
masyarakat dapatkan. Maka dengan adanya koordinasi yang jelas dan baik antara
kementerian dan masyarakat, secara tidak langsung dapat mengurangi
kesimpangsiuran informasi yang terkadang terkesan ambigu. Sehingga nantinya,
masyarakat selaku sebagai pelaku pendidikan mampu melaksanakan dengan baik
proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang
sepenuhnya diprioritaskan “untuk rakyat”,
dan bukan atas campur tangan petugas daerah setempat. Memang petugas daerah
setempat diikutsertakan, namun hanya sebatas policy maker (pembuat kebijakan)
dan bukan sebagai trouble maker (pembuat kerusakan) sebuah system pendidikan
yang akan dijalankan nantinya oleh masyarakat sendiri. Maka sudah sewajarnya
jika pendidikan memang dan harus diperuntukkan bagi masyarakat, dengan tidak
memberi batasan-batasan baik itu yang berkaitan dengan gender, SARA, maupun harga.
Dan seperti halnya dengan azas demokrasi yang hakiki, bahwa pendidikan sepenuhnya dikembangkan dan dikaji berdasarkan atas realita yang terjadi di dalam masyarakat. Bukan semata-mata sebagai alat politik yang kerap dijadikan oleh para politisi, sebagai sarana mencari dukungan suara dari masyarakat. Yang penting diingat pula, formula pendidikan yang tepat dan berazas demokrasi adalah yang benar-benar “bersih” dari tangan, pemikiran, dan pergerakan para tuan pemberi harapan yang terkesan lebih suka lempar tanggung jawab sana-sini. Dan keberadaan masyarakat yang “sehat” merupakan unsur penting yang diharapkan mampu membentuk sebuah system pendidikan yang kebal dari pengaruh budaya-budaya asing yang tidak tersaring dengan baik, termasuk di dalamnya akan sebuah jaminan mutu pendidikan yang tetap mengedepankan jiwa dan mental nasionalisme yang beradab dan bertanggung jawab.
No comments:
Post a Comment