Tuesday, 12 May 2015

Formula (Tepat) Pendidikan Indonesia Berazas Demokrasi : “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, & Untuk Rakyat”



Tidak dipungkiri sampai saat ini pun pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih jauh dari kata stabil, gonjang-ganjing seputar konsep pembelajaran yang amburadul bahkan dengan semakin banyak munculnya komersialisasi pendidikan, terasa masih menjadi cerita yang selalu terbarukan di kalangan masyarakat secara umum, hingga menimbulkan kegalauan di kalangan peserta didik pada khususnya.

Sebenarnya sampai saat ini, perkembangan pendidikan di Indonesia tidaklah buruk-buruk sekali, contoh kecil saja pada keikutsertaan dan kemenangan para pelajar Indonesia di perlombaan atau olimpiade baik di tingkat nasional maupun internasional. Mungkin hanya karena kurangnya peran masyarakat di dalam mendukung proses penyusunan materi pendidikan, tidak secara langsung dapat mempengaruhi kualitas pendidikan. Karena pada hakekatnya, konsep pendidikan itu seharusnya mampu memanusiakan manusia dan didasarkan atas kebutuhan manusia.

Dan jika dilihat di Indonesia, konsep pendidikannya cenderung hanya mengedepankan diskusi antar kelas orang-orang atas, bukan didasarkan atas fakta dan realitas. Memang cukup mewakili, namun tidak sepenuhnya mampu menjawab semua permasalahan yang terjadi. Dan jika ditelisik kebanyakan dana pengembangan pendidikan yang seharusnya mampu dinikmati masyarakat, kini lebih rentan disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Maka tidak salah jika kemudian peserta didik kurang mampu mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak, yang pada akhirnya secara tidak langsung dapat mengganggu kelangsungan proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dan sehubungan dengan hal tersebut maka kemudian disusunlah sebuah formula pendidikan yang disusun menganut pada konsep demokrasi, “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Seharusnya sebuah konsep pendidikan itu didasarkan pada kebutuhan yang berasal “dari rakyat”, dalam artian pendidikan yang diselenggarakan diharapkan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, baik menyangkut nilai-nilai agama, moral, dan budaya bangsa. Karena seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi, tuntutan pendidikan secara langsung ikut andil dalam mendukung proses pengembangan jaman. Maka disini pentingnya pemahaman tentang nilai-nilai yang ada di masyarakat, merupakan salah satu jurus ampuh untuk menangkal segala bentuk kolonialisme pendidikan.

“oleh rakyat”, masyarakat merupakan pelaku utama dalam mendukung kelangsungan sebuah proses pembelajaran pendidikan yang diselenggarakan. Keikutsertaan masyarakat disini sangat diperlukan, peran dan tugas masyarakat sebagai pelaksana, sekaligus pengawas merupakan factor yang menentukan kesuksesan pelaksanaan pendidikan. Disamping itu peran kementerian sebagai lembaga tertinggi Negara hendaknya lebih fleksibel, dalam artian dari segala argument yang dilontarkan oleh masyarakat hendaknya dapat ditanggapi dengan baik dan bukan dengan langsung memblokade akses pemenuhan pendidikan yang seharusnya masyarakat dapatkan. Maka dengan adanya koordinasi yang jelas dan baik antara kementerian dan masyarakat, secara tidak langsung dapat mengurangi kesimpangsiuran informasi yang terkadang terkesan ambigu. Sehingga nantinya, masyarakat selaku sebagai pelaku pendidikan mampu melaksanakan dengan baik proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang sepenuhnya diprioritaskan “untuk rakyat”, dan bukan atas campur tangan petugas daerah setempat. Memang petugas daerah setempat diikutsertakan, namun hanya sebatas policy maker (pembuat kebijakan) dan bukan sebagai trouble maker (pembuat kerusakan) sebuah system pendidikan yang akan dijalankan nantinya oleh masyarakat sendiri. Maka sudah sewajarnya jika pendidikan memang dan harus diperuntukkan bagi masyarakat, dengan tidak memberi batasan-batasan baik itu yang berkaitan dengan gender, SARA, maupun harga.
 
Dan seperti halnya dengan azas demokrasi yang hakiki, bahwa pendidikan sepenuhnya dikembangkan dan dikaji berdasarkan atas realita yang terjadi di dalam masyarakat. Bukan semata-mata sebagai alat politik yang kerap dijadikan oleh para politisi, sebagai sarana mencari dukungan suara dari masyarakat. Yang penting diingat pula, formula pendidikan yang tepat dan berazas demokrasi adalah yang benar-benar “bersih” dari tangan, pemikiran, dan pergerakan para tuan pemberi harapan yang terkesan lebih suka lempar tanggung jawab sana-sini. Dan keberadaan masyarakat yang “sehat” merupakan unsur penting yang diharapkan mampu membentuk sebuah system pendidikan yang kebal dari pengaruh budaya-budaya asing yang tidak tersaring dengan baik, termasuk di dalamnya akan sebuah jaminan mutu pendidikan yang tetap mengedepankan jiwa dan mental nasionalisme yang beradab dan bertanggung jawab.

No comments:

Post a Comment