Seperti kita ketahui bersama baik sadar maupun tidak sadar, setiap tahun
tepat pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari dimana
sejarah mencatat bapak perjuangan pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara
lahir tepat pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Dengan segala bentuk
perjuangan dan pengabdiannya pada saat itu dalam mewujudkan sistem pendidikan
yang merata, hingga kini dapat dinikmati semua kalangan. Semboyan ing ngarso
ing tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi
contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan), masih
tercatat dengan jelas dalam buku sejarah pendidikan nasional, sebagai
penyemangat perjuangan pendidikan nasional.
Namun jika sedikit menarik garis sejarah perjuangan pendidikan nasional
pada jaman dahulu hingga saat ini, apakah sudah tepat jika hanya menyebut Ki
Hadjar Dewantara sebagai satu-satunya bapak pendidikan nasional? dan apakah
hingga sampai saat ini pendidikan benar-benar mampu dinikmati semua kalangan?
Sebenarnya ada banyak sekali tokoh-tokoh pendidikan yang sangat berjasa
dalam menciptakan dan menerapkan pola sistem yang dapat diterima dengan baik (terlepas
adanya unsur agama) oleh banyak kalangan masyarakat. Contoh kecil pada apa yang
dilakukan KH. Hasyim Asy’ari dalam menerapkan pendidikan pesantren, dimana pendidikan
tersebut secara tidak langsung mampu diterima dan dapat menyesuaikan dengan kearifan
lokal yang ada di dalam masyarakat multi etnis.
Selain itu dalam penerapan sistem pendidikan hingga saat ini, dirasa masih
sangat jauh untuk mencapai titik kestabilan sistem. Bahkan yang seringkali
terdengar yakni keluhan-keluhan dari berbagai masyarakat terhadap pola
pendidikan yang berubah-ubah, seiring dengan pergantian kepemimpinan secara
nasional. Di samping itu, masih banyak sekali ditemui di berbagai daerah
masyarakat yang belum sepenuhnya terpenuhi hak untuk mendapatkan dan menerima
pendidikan yang layak, masih banyak masyarakat yang memerlukan penanganan lebih
lanjut tentang pendidikan, dan sebagainya.
Berdasarkan
opini yang disampaikan di atas, penulis mengajak secara bersama memaknai
kembali sejarah panjang perjuangan pendidikan nasional, baik itu dimulai jauh sebelum
kemunculan para penjajah, hingga kini di tengah perkembangan jaman yang semakin
global. Terlebih dalam ikut berperan serta dalam memperbaiki sekaligus menciptakan
formula yang lebih efektif dan efisien khususnya dalam penerapan pola
pendidikan, sehingga harapan ke depan pendidikan dapat terus berkembang namun
tak sampai melupakan kearifan lokal yang telah mengakar di berbagai kalangan
masyarakat.

No comments:
Post a Comment