Saturday, 2 May 2015

Refleksi Peringatan 2 Mei





Seperti kita ketahui bersama baik sadar maupun tidak sadar, setiap tahun tepat pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari dimana sejarah mencatat bapak perjuangan pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara lahir tepat pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Dengan segala bentuk perjuangan dan pengabdiannya pada saat itu dalam mewujudkan sistem pendidikan yang merata, hingga kini dapat dinikmati semua kalangan. Semboyan ing ngarso ing tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan), masih tercatat dengan jelas dalam buku sejarah pendidikan nasional, sebagai penyemangat perjuangan pendidikan nasional.
Namun jika sedikit menarik garis sejarah perjuangan pendidikan nasional pada jaman dahulu hingga saat ini, apakah sudah tepat jika hanya menyebut Ki Hadjar Dewantara sebagai satu-satunya bapak pendidikan nasional? dan apakah hingga sampai saat ini pendidikan benar-benar mampu dinikmati semua kalangan?
Sebenarnya ada banyak sekali tokoh-tokoh pendidikan yang sangat berjasa dalam menciptakan dan menerapkan pola sistem yang dapat diterima dengan baik (terlepas adanya unsur agama) oleh banyak kalangan masyarakat. Contoh kecil pada apa yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari dalam menerapkan pendidikan pesantren, dimana pendidikan tersebut secara tidak langsung mampu diterima dan dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal yang ada di dalam masyarakat multi etnis.
Selain itu dalam penerapan sistem pendidikan hingga saat ini, dirasa masih sangat jauh untuk mencapai titik kestabilan sistem. Bahkan yang seringkali terdengar yakni keluhan-keluhan dari berbagai masyarakat terhadap pola pendidikan yang berubah-ubah, seiring dengan pergantian kepemimpinan secara nasional. Di samping itu, masih banyak sekali ditemui di berbagai daerah masyarakat yang belum sepenuhnya terpenuhi hak untuk mendapatkan dan menerima pendidikan yang layak, masih banyak masyarakat yang memerlukan penanganan lebih lanjut tentang pendidikan, dan sebagainya. 
Berdasarkan opini yang disampaikan di atas, penulis mengajak secara bersama memaknai kembali sejarah panjang perjuangan pendidikan nasional, baik itu dimulai jauh sebelum kemunculan para penjajah, hingga kini di tengah perkembangan jaman yang semakin global. Terlebih dalam ikut berperan serta dalam memperbaiki sekaligus menciptakan formula yang lebih efektif dan efisien khususnya dalam penerapan pola pendidikan, sehingga harapan ke depan pendidikan dapat terus berkembang namun tak sampai melupakan kearifan lokal yang telah mengakar di berbagai kalangan masyarakat.

No comments:

Post a Comment